Teknologi Aplikasi Kombinasi Insektisida
I. Teknologi Penerapan Kombinasi Insektisida

Menggabungkan insektisida bukan hanya soal mencampurkan bahan-bahannya; memerlukan formulasi ilmiah dan rasional berdasarkan faktor-faktor seperti konsentrasi aplikasi, metode penggunaan, dan kemanjuran. Prinsip-prinsip berikut harus diperhatikan secara ketat selama formulasi:
(i) Prinsip Sinergis: Pencampuran dua atau lebih insektisida dapat menghasilkan efek sinergis (meningkat) atau antagonis (berkurang). Selain itu, memvariasikan rasio pencampuran dua pestisida yang sama akan mengubah tingkat dampaknya. Sebuah "efek aditif" terjadi ketika gabungan toksisitas campuran terhadap organisme tertentu sama dengan jumlah toksisitas masing-masing komponen yang digunakan secara terpisah.
(ii) Prinsip Toksisitas: Campuran tidak boleh menunjukkan peningkatan toksisitas dibandingkan dengan masing-masing komponennya; durasi kemanjuran harus tetap sama atau meningkat; dan tingkat residu tidak boleh melebihi yang dihasilkan dari penggunaan masing-masing bahan.
(iii) Prinsip Fitotoksisitas: Beberapa insektisida aman untuk tanaman jika digunakan secara terpisah namun dapat menyebabkan fitotoksisitas jika dicampur; oleh karena itu, keamanan tanaman harus dipertimbangkan secara hati-hati selama formulasi.
(iv) Prinsip Resistensi: Pilih varietas pestisida yang menunjukkan resistensi silang negatif (dimana suatu hama mengembangkan resistensi terhadap satu insektisida namun menjadi lebih rentan terhadap insektisida lain) atau, paling tidak, menghindari resistensi silang positif (di mana resistensi terhadap satu pestisida menyebabkan resistensi terhadap pestisida lainnya). Umumnya, piretroid tidak menunjukkan resistensi silang dengan pestisida organofosfat atau organonitrogen dan dapat dicampur.
(v) Prinsip Reaksi Asam-Basa: Kebanyakan insektisida yang saat ini digunakan dalam produksi bersifat netral atau sedikit asam. Bahan-bahan tersebut tidak boleh dicampur dengan pestisida yang bersifat basa—seperti campuran kapur-belerang atau campuran Bordeaux—untuk menghindari reaksi kimia yang dapat mengurangi kemanjuran.
Pertama kali ditemukan bahwa sesamin (ditemukan dalam minyak wijen) bertindak secara sinergis dengan piretrin alami; selanjutnya dikembangkan berbagai sinergis seperti piperonil butoksida (PBO), sulfoksida, MGK 264, dan lain-lain. Sinergis ini tidak mempunyai aktivitas insektisida langsung; namun, ketika ditambahkan ke insektisida, mereka menghambat kerja enzim oksidatif, mencegah penguraian insektisida dan dengan demikian meningkatkan kemanjurannya. Namun demikian, sinergis tidak meningkatkan efektivitas semua pestisida, dan tingkat peningkatannya bervariasi tergantung pada jenis insektisida yang digunakan.

Menggabungkan insektisida bukan hanya soal mencampurkan bahan-bahannya; memerlukan formulasi ilmiah dan rasional berdasarkan faktor-faktor seperti konsentrasi aplikasi, metode penggunaan, dan kemanjuran. Prinsip-prinsip berikut harus diperhatikan secara ketat selama formulasi:
(i) Prinsip Sinergis: Pencampuran dua atau lebih insektisida dapat menghasilkan efek sinergis (meningkat) atau antagonis (berkurang). Selain itu, memvariasikan rasio pencampuran dua pestisida yang sama akan mengubah tingkat dampaknya. Sebuah "efek aditif" terjadi ketika gabungan toksisitas campuran terhadap organisme tertentu sama dengan jumlah toksisitas masing-masing komponen yang digunakan secara terpisah.
(ii) Prinsip Toksisitas: Campuran tidak boleh menunjukkan peningkatan toksisitas dibandingkan dengan masing-masing komponennya; durasi kemanjuran harus tetap sama atau meningkat; dan tingkat residu tidak boleh melebihi yang dihasilkan dari penggunaan masing-masing bahan.
(iii) Prinsip Fitotoksisitas: Beberapa insektisida aman untuk tanaman jika digunakan secara terpisah namun dapat menyebabkan fitotoksisitas jika dicampur; oleh karena itu, keamanan tanaman harus dipertimbangkan secara hati-hati selama formulasi.
(iv) Prinsip Resistensi: Pilih varietas pestisida yang menunjukkan resistensi silang negatif (dimana suatu hama mengembangkan resistensi terhadap satu insektisida namun menjadi lebih rentan terhadap insektisida lain) atau, paling tidak, menghindari resistensi silang positif (di mana resistensi terhadap satu pestisida menyebabkan resistensi terhadap pestisida lainnya). Umumnya, piretroid tidak menunjukkan resistensi silang dengan pestisida organofosfat atau organonitrogen dan dapat dicampur.
(v) Prinsip Reaksi Asam-Basa: Kebanyakan insektisida yang saat ini digunakan dalam produksi bersifat netral atau sedikit asam. Bahan-bahan tersebut tidak boleh dicampur dengan pestisida yang bersifat basa—seperti campuran kapur-belerang atau campuran Bordeaux—untuk menghindari reaksi kimia yang dapat mengurangi kemanjuran.
Pertama kali ditemukan bahwa sesamin (ditemukan dalam minyak wijen) bertindak secara sinergis dengan piretrin alami; selanjutnya dikembangkan berbagai sinergis seperti piperonil butoksida (PBO), sulfoksida, MGK 264, dan lain-lain. Sinergis ini tidak mempunyai aktivitas insektisida langsung; namun, ketika ditambahkan ke insektisida, mereka menghambat kerja enzim oksidatif, mencegah penguraian insektisida dan dengan demikian meningkatkan kemanjurannya. Namun demikian, sinergis tidak meningkatkan efektivitas semua pestisida, dan tingkat peningkatannya bervariasi tergantung pada jenis insektisida yang digunakan.